ZOOM

ZOOM
gaya

Minggu, 28 November 2010

ISLAM SEBAGAI SARARAN STUDI (Sebuah Kajian Sejarah dan Penelitian Studi Agam Islam)

Studi Agama khususnya Islam selama ini tidak hanya dilakukan oleh orang Islam itu sendiri, akan tetapi mereka non muslim-pun tidak mau ketinggalan. Baik Islam dipandang sebagai system keyakinan (Islam konseptual/ Islam in books) maupun Islam dipandang sebagai sistem social (Islam actual/ Islam in action).
Seperti apa yang telah diungkapkan oleh Taufiq Abdullah bahwa penelitian agama mesih controversial di masyarakat, karena pradigma berpikir mereka tentang agama itu masih dalam tataran kajian saja tanpa ada inisiatif untuk mengkritisinya sehingga muncul anggapan “agama yang mapan masih mau diteliti”. Wacana demikianlah yang menjadi faktor penghambat bagi para ilmuan untuk melakukan studi agama. Hal yang demikian bukan hanya terjadi di Indonesia, Negara barat pun yang telah diyakini tingkat peradabannya lebih tinggi terjadi hal yang serupa .
Menurut Musahadi bahwa penelitian agama merupakan usaha sistematis mencari kebenaran maka penelitian agama menjadi absurd. Mungkin dari sikap inilah agama dijadikan sebagai objek studi mendapat respon yang kurang baik dikalanagan masyarakat. Sehingga muncul opini bahwa upaya tersebut nantinya akan memojokkan agama yang dijadikan objek studi itu sendiri.
Contoh kasus adalah kemarahan kelompok Islam “hardliner” atas produk-produk studi Islam yang dilansir oleh kelompok JIL ( Jaringan Islam Liberal ) yang berujung pada terror dan intimidasi bahkan tututan pembubaran terhadap lembaga yang dirintis oleh Ulil Absor Abdullah itu. Ini lah merupan salah satu potret bahwa masyarakat masih tidak menerima dengan adanya studi-studi agama.
Di Indonesia derasnya kritik yang diarahkan pada studi Islam yaitu kerena terlalu kentalnya pendekatan normative-teologis dan terkesampingkannya historis-sosiologis. Sehingga menghambat proses studi Islam di Indonesia. Menurut Waardenburg menyimpulkan “ menjadikan agama sebagai objek studi empirik dan menelitinya sebagai realitas manusiawi, bukan hanya memerlukan usaha keras melainkan juga keberanian yang cukup”.
Konsep penelitian agama mempunya dua makna, yan pertama mencari kebenaran agama dan yang kedua usaha untuk menemukan dan memahami “kebenaran” dari realitas empiris, atau kita kenal dengan research on religion (penelitian agama) dan religious research (penelitian keagamaan) yang dari masing-masing keduanya mempunyi kecendrungan yang berbeda.
Research on religion (penelitian agama) lebih menitik beratkan pada materi agama. Ada tiga elemen pokok yaitu: ritus, metos dan magik dengan kata lain agama sebagai doktrin. Sedangkan untuk religious research (penelitian keagamaan) adalah lebih menekankan agama sebagai system atau gejala sosial.
Dalam teori religion commetmen yang diintruduksir oleh Glock dan Star, keberagaman muncul dari lima demensi yaitu: demensi pertama, ediologi (belieffs), yang mana terkait dengan prangkat keparcayaan yang memberikan “premis eksistensi” untuk menjalaskan tuhan, alam, manusia dan hubungan diantara ketiganya. Dimensi kedua intelaktual, disini sangat jelas bahwa intelaktual berkaitan sekali dengan pengetahuan yang dimiliki orang tentang agama sendiri. Dengan demikian bisa diukur sejauh mana tingkar pemahaman dan ketertarikan masyarakat untuk mengetahui lebih mendalam tentang agamanya. Ketiga demensi eksperiensial. Adalah bagian dari dimensi agama yang bersifat efektif yakni keterlibatan emosional dan sentimental pada pelaksanaan ajaran agama. Keempat dimensi ritual, hal ini berkenaan dengan ritus-ritus kaagamaan yang dianjurkan untuk mengikuti kepada semua pengikutnya yang meliputi pedoman-pedoman pokok pelaksanaan ritus itu sendiri. Kelima konsekuensial adalah adalah bagaimana efek dari sebuah keyakinan terhadap agama itu sendiri dalam kehidupan social maupun yang bersifat individual seperti memotivasi etos kerja.
Dari gambaran diatas cukup jelas bahwa studi agama banyak menewarkan pilihan mulai yang bersifat doctrinal-teologi hingga berwatak cultural histories. sasarannya dalam kajian tersebut juga bervareasi, mulai agama dalam pespektif belief (agama konseptual atau agama in books) hingga practices (agama actual atau agam in action). pendekatannya dalam hal ini juga beragam, mulai pedekakatan yang dikembangkan secara intrinsic dalam studi agama tradisional hingga pendekatan studi disiplin social science .
Tujuan dan dalam studi Islam dapat dikelompokkan ke beberapa bagian.yaitu;
1. Ngaji. yaitu studi Islam yang dialakukan berdasarkan kebutuhan untuk dipraktekkan ajarannya tanpa kajian kritis, seperti pangajian umum di kampong.
2. Studi Islam Klasik, yaitu model studi Islam yang di lakukan oleh ulama-ulama terdahulu dengan kajian kritis, seperti yang dilakukna oleh al-Ghazali, al-Razi dan al-suyuti.
3. Islammologi, adalah mengkaji Islam tidak hanya kepentingan penglaman akan tetapi disebabkan oleh kesadaran untuk memperluas ilmu pangetahuan
4. Apologis, studi Islam yang dilakukan dalam rangka menjawab atau merespon model studi Islam mologi. Terutama sekali yang bertujuan mendiskreditkan Islam. Studi Islam ini dalam banyak hal kehilangan daya kritis karena dilandasi oleh sikap a priori. Model ini banyak dilakukan oleh kalangan modernis
5. Islamization of knowledge, studi ini adalah dalam rangka merespon terhadap perkembangan keilmuan di barat yang begitu maju dengan mengupayakan agar ilmu-ilmu barat yang skuler mempunyai landasan dan akar pada ajaran tauhid.
Betuk kajian diatas lebih dikenal dengan Islamic studies yakni suatu frem scientific yang menelaah doktrin agama serta dialektika dan sentesis doktrin dan demensi kesejaktraan dalam masyarakat silama. Dengan kata lain, Islama studies ajaran silama dan dialektika ajaran Islam dengan masyarakat Islam itu sendiri.
Pendekatan dalam Islamic studies di dunia timur dan berat—pun berbeda. Di dunia timur pendekatannya lebih berorientasi pada penguasaaan subtansi materi dan penguasaan atas khasanah-khasanah klasik. Objek utamanya adalah teologi (ajaran) yang bersifat ahistoris, Bukan pada artikulasi atau fenomena keberagaman masyarakat yang bersifat ahistoris. Maka dengan demikian mereka bayak menjadi ahli tafsir dan hadits.
Sedangkan Islamic studies di barat kajiannya berorientasi pada Islama sebagai realitas atau fenomena sosial (Islam yang menyejarah, meruang dan mewaktu). Kedudukan Islam yaitu sebagai ilmu pengetahuan, dan pendekatannya menggunakan ilmu-ilmu sosial dan humanities. Bukan pada kajian teologis doktriner sebagaimana Islam di dunia timur. Disiplin ilmu yang digunakan seperti sosiologi, antropolagi, ilmu politk.psikolagi. Sedangkan humanitiesnya akan menghasilkan ilmu-ilmu seperti filafat, filologi dan ilmu-ilmu bahasa dan sejaran.

0 komentar:

Poskan Komentar